Lebah Madu Edisi I

Diposting oleh Knisa Nurimanita di 05.37 0 komentar

Salah seorang ulama ditanya: “Mengapa perkataan Salafus Shalih lebih bermanfaat dari perkataan kita?” maka iapun menjawab : “karena mereka berbicara untuk kemuliaan islam, untuk keselamatan jiwa, untuk mencari ridho Allah yang Maha Pemurah sedangkan kita berbicara untuk kemuliaan diri, mencari dunia dan mencari keridhoaan makhluk”. (Sifatu Sofwah Karya Ibnul Jauzi 4/122)


Aktivis Lilin or Aktivis Dakwah??
What do You Choose?...



     Dinamis dalam dakwah, performa sempurna, dan membangun kesan produktif. Dikenal sebagai aktivis dakwah. Tapi benarkah ini proses membangun? Ataukah tabir di balik kelemahan? Yang memberi cahaya tapi menghabiskan potensi dan nilai diri? Membakar habis ruh yang bergerak dalam jasad yang ragu, seperti lilin…?!        “Sebenarnya umat Islam tidak kekurangan kuantitas, tetapi telah kehilangan kualitas. Kita telah kehilangan bentuk dan keteladanan manusia muslim yang kuat imannya, yang membulatkan dirinya untuk dakwah, yang rela berkorban di jalan dakwah dan jihad fii sabilillah, dan yang senantiasa istiqomah sampai akhir hayatnya. Maka marilah kita beriltizam dengan tarbiyah dan janganlah kita ridha menukarnya dengan cara-cara yang lain.” Demikian taujihat yang disampaikan oleh Syaikh Musthafa Masyhur.
     Inilah arahan yang mengajarkan kita tentang tujuan dari sebuah kerisauan. Kepada umat dan kader dakwah ini, risau karena kualitas, dan bukan sekedar pada kuantitas. Risau kepada diri kita, kepada keluarga, dan kepada seluruh manusia yang telah dan akan membangun interaksinya dengan kita. Interaksi spesifik, interaksi ketaatan, interaksi dakwah.                                                         
Gambaran tersebut diwakili oleh Fulan, seorang aktivis dakwah kampus. Perenungan mengantarkannya pada diskusi dalam sebuah majelis yang diikutinya. “Ustadz, ini menjadi masalah besar dalam diri ane. Ane mencermati perilaku dan keluhan aktivis dakwah. Gambarannya begini. Ketika seorang hamba memiliki kuantitas ibadah yang bertambah, maka seharusnya berkorelasi positif dengan


kualitas keimanan hamba tersebut. Dalam perspektif dakwah pun seharusnya berlaku hal yang sama. Seorang aktivis, ketika frekuensi aktivitas dakwahnya makin padat maka seharusnya ia juga memiliki kualitas keimanan yang juga meningkat. Akan tetapi kenyataan di lapangan terlihat agak berbeda. Seringkali aktivitas dakwah yang padat justru menggerus dan menyerap habis kesabaran, tabungan empati, dan kedewasaan seorang da’i. Kami menjadi lebih emosional, kehilangan  nuansa ukhuwah, dan yang parah adalah melihat amanah dakwah sebagai sesuatu beban. Kami merasa terjebak dalam ‘sekedar’ aktivitas formal keorganisasian, sekedar menjadi robot-robot pelaksana proker. Bahwa amalan tersebut tidak berbeda dari amalan mahasiswa lain yang menggelar konser musik kampus dan yang sejenisnya. Parahnya lagi, mereka terlihat lebih ‘hidup’ dengan dinamika aktivitasnya dibandingkan dengan nuansa yang kami miliki dalam mengemban amanah dakwah ini. Bahkan kadang-kadang setan datang dan memberikan was-was. Muncul pertanyaan-pertanyaan,   susah amat sih menjadi selalu baik di hadapan orang. Atau ungkapan bahwa ane merasa memiliki kepribadian ganda, di depan orang lain selalu dituntut baik, tapi sebenarnya lemah ketika sendirian, dan seterusnya. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi?”

AKTIVITAS LILIN                                       
Gambaran kondisi aktivis dakwah yang diwakili Fulan adalah gambaran aktivis lilin. Tampil sebagai da’I yang memberikan pencerahan kepada masyarakat kampus, akan tetapi secara sadar membakar habis potensi keimanan yang dimiliki. Penyebabnya adalah pemahaman yang memandang agenda dakwah berbingkai kegiatan organisasi selalu lebih utama dari agenda pembinaan. Perilaku      turunannya adalah tidak jarang aktivis dakwah meminta izin dari jadwal tarbiyah karena ada syura dakwah. Pada saat itulah potensi keimanan sang aktivis tidak ter- up grade. Padahal itulah bekalan yang harus selalu tersedia dalam agenda dakwah, sekecil apapun. Dari pemahaman yang keliru tadi, aktivitas dakwah sang aktivis ‘membakar’ habis potensi dirinya. Mejadi futur adalah konsekuensi logis yang pasti terjadi. Tanpa kita sadari seringkali kita terjebak di dalam konteks tersebut. Semangat yang kita miliki dalam dakwah sangat kondisional. Tidak didukung oleh agenda persiapan yang berkesinambungan. Ketika lingkungan kondusif    untuk dakwah, maka kita akan tampil optimal.akan tetapi ketika lingkungan melemah dan amanah dakwah hanya tersampir               di pundak segelintir ikhwah, maka kita pun melemah. Tidak mustahil akhirnya semangat dakwah kita kian melemah, meleleh, dan akhirnya padam, layaknya sebatang lilin. 


SUBSTANSI DAN KEDUDUKAN TARBIYAH              
Jika tarbiyah tidak penting, tidak mungkin Syaikh Musthafa Masyhur menegaskan, “Marilah kita beriltizam dengan tarbiyah dan janganlah kita ridha menukarnya dengan cara-cara yang lain.” Sebab tarbiyah adalah     wadah dimana kita melengkapi pemahaman dan bekalan dakwah.


Modal yang menjelma menjadi ciri dan karakter kita dalam menegakkan amanah kebaikan dan menyerukan Islam.                  Dimanakah kiranya kita bisa dapatkan tempat yang menempa kita menjadi seorang mujahid? Sosok yang memiliki tingkat pemahaman yang tinggi kepada agamanya, pemahaman yang menyeluruh, lengkap, dan orisinal terhadap Kitabullah dan Sunnaturrasul. Dan ia harus memiliki keikhlasan yang besar untuk menjadi laskar dakwah dan aqidah. Bukan   sekedar laskar organisasi kampus apalagi laskar lainnya yang hanya mengejar keuntungan dan tujuan materi semata. Bukan pula laskar yang semata-mata mengejar kepentingan diri sendiri dan popularitas. Menjadi sosok yang mengutamakan kerja daripada hanya sekedar berbicara. Yang seimbang perkataan dengan       perbuatan. Yang mengenal dengan pasti jalan yang dilaluinya dan mengikhlaskan niatnya karena Allah semata. Sosok yang bertekad untuk dakwah dan membebaskan dirinya dari segala prinsip selain Islam dan dari manusia yang tidak menyetujui dakwah Islam.   Kemudian ia menyiapkan dan menyediakan dirinya untuk berjihad di jalan Allah demi meninggikan Kalamullah dengan mengorbankan segala yang dimilikinya, jiwa, harta, waktu, dan usaha. Sosok yang oleh Allah ditawar tinggi dengan tebusan kemuliaan, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari diri orang-orang yang beriman dari diri dan harta mereka dengan memberikan surga kepada mereka.” (QS.At Taubah: 111). Dimanakah kiranya sosok itu dibentuk selain dari sebuah wadah pembinaan yang berkesinambungan. Pembinaan yang terukur dan sarat dengan proses implementasi nilai. Wadah yang      menghimpun komitmen dan keinginan sekaligus membakar kelemahan dan tujuan yang menyimpang. Lingkungan yang memungkinkan kita memaksa diri untuk ikhlas menaati ketetapan Allah, penuh rasa ukhuwah, dan saling taushiyah. Maka marilah kita renungkan, sekuat apakah kita akan bertahan dalam dinamika yang secara paksa merenggut semua peluang keimanan kita. Apalagi kalau kita berpikir masih dapat berpartisipasi melawan     hegemoni kemaksiatan dan kemusyrikan serta budaya hidup yang melenakan. Kecuali dengan pengkondisian yang terstruktur dan terpantau, bersama orang-orang yang memiliki komitmen yang sama, serta saling menguatkan, melengkapi pemahaman dan bekalan yang dibutuhkan, hidup dalam tarbiyah. Maka dengan itulah kita mampu bertahan dalam pertarungan besar ini. Jika tidak, maka kita hanya akan mengulang kisah sedih para aktivis lilin yang tertipu oleh kekuatan dirinya, yang berakhir tidak bersisa kecuali menjadi debu yang tidak bermakna. Na’udzubillahi min dzalika.     


EPILOG                                    
Kembalilah kepada tarbiyah sebagai langkah awal memulai kehidupan dakwah kita. Sebagai lingkungan membangun karakter mujahid diri kita. Karena dakwah ini tidak hanya menuliskan kisah-kisah keberhasilan dan kejayaan, melainkan juga penderitaan dan kesedihan, kisah pengorbanan yang menuntut pembuktian.  Bukankah Allah telah mengingatkan kita,  “Adakah manusia menyangka mereka mereka akan dibiarkan berkata, ’Kami telah beriman.’ Padahal mereka belum diuji dan   sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, supaya Kami mengetahui orang-orang yang benar dan orang-orang yang dusta.” (QS.Al Ankabut: 2-3). Dengan tarbiyah marilah kita berhimpun dalam barisan aktivis dakwah, bukan aktivis lilin. Karena tarbiyah adalah wujud langsung komitmen kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Proses pembinaan diri mengarahkan kita untuk taat pada ketetapan Allah dan Rasul-Nya. Hal ini menuntut komitmen dan        memaksa kelemahan kita, yang juga berarti menyiapkan kita untuk dapat bertahan dalam berbagai ujian dan beban yang semakin berat. “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) oleh orang-orang sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, ”Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat. (QS. Al Baqarah: 214)                             
Masihkah kita bisa merasa tidak merugi ketika mengurangi dan tidak mengoptimalkan kesempatan dalam berbagai agenda tarbiyah kita? Belum tibakah saatnya memaksa kelemahan diri untuk patuh pada semangat kebangkitan yang sering kita cita-citakan?



“Wahai Orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan  sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Itu sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”
(QS. Ash Shaff : 2-3)



Didedikasikan untuk segenap Aktivis Da’wah LDKm MD’U dimanapun berada…


New Edition 001/VII/1433 H

FIQIH QURBAN

Diposting oleh Knisa Nurimanita di 06.09 0 komentar


          Allah  SWT  berfirman yang artinya, “Maka, dirikanlah  shalat karena Tuhanmu, dan sembelihlah qurban.” (QS.  Al Kautsar:  2). “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syari`atkan penyembelihan (qurban) supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang di karuniakan Allah kepada mereka.” (QS. Al-Hajj: 34). Syaikh Abdullah Alu Bassaam juga mengatakan, “Sebagian ulama ahli tafsir mengatakan; Yang dimaksud dengan menyembelih  qurban adalah menyembelih hewan qurban setelah shalat Ied.” Pendapat ini dinukilkan dari Qatadah, Atha’ dan Ikrimah.


Mengenai hewan qurban itu sendiri, dalam istilah ilmu fiqih hewan qurban biasa disebut dengan nama Al Udh-hiyah yang bentuk jamaknya Al Adhaahi.  Udh-hiyah adalah hewan ternak yang disembelih pada hari Iedul Adha dan hari Tasyriq dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah karena datangnya hari raya tersebut.

Berdasarkan pernyaataan tersebut , maka jelaslah bagi kita kaum Muslimin, untuk melaksanakan qurban pada hari Iedul Adha dan hari Tasyriq dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.


·         Keutamaan Berkurban
Tentu saja, dibalik disyariatkannya kita berqurban, terdapat keutamaan dalam berqurban. Adapun keutamaannya ialah menyembelih qurban termasuk amal salih yang paling utama. Ibunda ‘Aisyah ra. menceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari Nahr (Iedul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah melebihi mengalirkan darah (qurban), maka hendaknya kalian merasa senang karenanya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim dengan sanad sahih, lihat Taudhihul Ahkam, IV/450). Hadist ini juga ditopang oleh pemaparan banyak ulama yang menjelaskan bahwa menyembelih hewan qurban pada hari idul Adlha lebih utama dari pada sedekah yang senilai atau seharga hewan qurban atau bahkan sedekah yang lebih banyak dari pada nilai hewan qurban. Karena maksud terpenting dalam berqurban adalah mendekatkan diri kepada Allah. Disamping itu, menyembelih qurban lebih menampakkan syi’ar islam dan lebih sesuai dengan sunnah. (lih. Shahih Fiqh Sunnah 2/379 & Syarhul Mumthi’ 7/521)


·         Hukum Kurban
1.     Wajib bagi orang yang berkelapangan. Diantara dalilnya adalah hadits Abu Hurairah yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berkelapangan (harta) namun tidak mau berqurban maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ibnu Majah 3123, Al Hakim 7672 dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani)
2.             Sunnah Mu’akkadah (ditekankan). Dan ini adalah pendapat mayoritas ulama yaitu Malik, Syafi’i, Ahmad, Ibnu Hazm dan lain-lain. Ulama yang mengambil pendapat ini berdalil dengan riwayat dari Abu Mas’ud Al Anshari radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengatakan, “Sesungguhnya aku sedang tidak akan berqurban. Padahal aku adalah orang yang berkelapangan. Itu kulakukan karena aku khawatir kalau-kalau tetanggaku mengira qurban itu adalah wajib bagiku.” (HR. Abdur Razzaq dan Baihaqi dengan sanad shahih).
1.    
·         Hewan yang Boleh Digunakan untuk Qurban
“Hewan qurban yang paling utama ialah unta, kemudian sapi, kemudian kambing. Unta dan sapi untuk tujuh orang, dan kambing untuk satu orang” (HR. Muslim).   Unta disyaratkan telah masuk tahun ke-6. Sapi dan kambing telah masuk tahun ke-3 dan domba telah masuk umur 2 tahun, atau telah gugur gigi depannya. “Sebaik-baik qurban ialah yang telah gugur gigi depannya.” (HR. Ahmad). Selamat dari cacat yang mengakibatkan berkurang dagingnya.
Berdasarkan HR. Tirmidzi dan Abu Dawud, bahwasanya ada empat hewan cacat yang tidak sah untuk berkurban, yakni :
1.        Binatang yang celak yang nyata celak matanya,
2.        Binatang sakit yang nyata sakitnya,
3.        Binatang pincang yang nyata pincangnya, dan
4.        Binatang kurus yang tidak bersumsum.

1.      
·         Waktu Penyembelihan Qurban
Waktu penyembelihan qurban di mulai sesudah terbit matahari pada hari raya Idul Adha, sampai terbenamnya matahari pada hari tasyriq yang terakhir. Hari Tasyriq ialah tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Rasulullah SAW bersabda, “Setiap hari taysriq adalah (hari) untuk menyembelih (qurban).” (HR. Ahmad dan Baihaqi) Tidak ada perbedaan waktu siang ataupun malam. Baik siang maupun malam sama-sama dibolehkan. Namun menurut Syaikh Al Utsaimin, melakukan penyembelihan di waktu siang itu lebih baik. Para ulama sepakat bahwa penyembelihan qurban tidak boleh dilakukan sebelum terbitnya fajar di hari Iedul Adha. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat Ied maka sesungguhnya dia menyembelih untuk dirinya sendiri (bukan qurban). Dan barangsiapa yang menyembelih sesudah shalat itu maka qurbannya sempurna dan dia telah menepati sunnahnya kaum muslimin.” (HR. Bukhari dan Muslim)
·         Sunnah-sunnah dan Adab Berkurban
1.    Apabila masuk sepuluh dari bulan Dzulhijjah, dan ada niat untuk berkurban, maka disunnahkan jangan menghilang kan sedikit pun dari rambut dan kukunya sampai kurban terlaksana. (HR. Muslim)
2.    Disunnahkan agar menyembelih sendiri hewan kurbannya. Jika tidak, karena udzur atau lainnya, hendaklah ia menyaksikan penyembelihannya.
3.       Pada tetesan pertama dari darah hewan qurban, akan mendapat ampunan atas dosa-dosa yang telah lewat. (HR. Hakim).
4.   Sunnah bagi pemerintah atau imam kaum muslimin, berkurban dengan mengambil dari Baitulmal untuk seluruh kaum muslimin. Nabi SAW. Mengurbankan seekor domba, seraya mengucapkan ketika menyembelihnya, “Dengan menyebut nama Allah, ya Allah, terimalah dari Muhammad, keluarga Muhammad dan umat Muhammad.” (HR. Muslim)
5.  Boleh dimakan sebagiannya dan dianjurkan memberi makan kepada orang yang bukan peminta-minta juga peminta-minta. (QS. Al-Hajj: 36).
6.    Jangan menjual kulit hewan kurbannya, sehingga tidak sah kurbannya. (HR. Al-Baihaqi)   


Wallahu a`lam bissawab


Refreshing MD'U

Diposting oleh rikimaru1234321 di 08.10 0 komentar

Hari minggu tanggal 21 oktober 2012 MD'U mengadakan acara refreshing bertujuan untuk liburan dimana semua staff md'u setelah menjalankan amanah di md'u atau di hima masing-masing(makanya kalau masuk MD'U potensinya keluar semua jadi suka ditunjuk jadi panitia inti dan koordinator) yaitu memancing di daerah........ pokoknya dekat KRS lupa daerah apa(readers:makanya autor jalan2 dong *author pundung di pojokan*)sangat disayangkan acranya molor 1:30 jam karena banyak yg harus dipersiapakan tapi kekurangan orang yg mempersiapkan.acra dimulai pada pukul 8:30 dibuka oleh tausiah alumni MD'U yaitu kak saiful.Tapi karena acaranya molor taushiahnya dicepetin karena jam 9 kak saiful ada mengisi acara ditempat lain(maaf ya kak)setelah itu lanjut acara inti yaitu acara mancing mania.dengan bekal botol,senar,kail dan pellet(bener g tulisannya?).kolam yang dipakai ada 2 yaitu kolam ikan mas(ada ikan mbak g?*dikeplak ketum*)dan ikan lele.Sepertinya yang makan umpan pelet cuma ikan mas doang sedangkan ikan lele g mau katanya sih harus umpannya ote-ote(ikan doang belagu bener umpan aja milih-milih).Selama pemancingan ada kejadian lucu dimana pancingan ketum ditangkap ikan lalu putus sehingga pelampungx jalan2 dikolam ditarik sang ikan belagu.setelah perjuangan sekitar 10 menit akhirnya tu ikan ketangkap juga(tandain ikan tadi kita siksa paling tidak berperike-ikan-an).Namanya memnacing tentu saja menguji kesabaran para ikhwan dan akhwat.Ikhwannya paling g sabaran baru 10 menit naruh umpan dan bilang"ikannya mana?","ada ikannya g sih?"dll,sedangkan akhwatnya nunggu dengan sabar ckckckck(gitu dong tiru akhwat dalam kesabaran)acara memancing hanya samapai jam 11:00 ternyata mengakap sekitar 5 kilo g ingat berapa ekor lalu dilanjutkan dengan bakar-bakar ikannya dan sebagian akhwat membuat rujak.acara makannya hanya rujak doang karena udah adzan dzuhur jadi kita sholat dulu baru makan ikan bakarnya.Kemduian setelah sholat dilanjutin makan-makan dengan ikan bakar hasil tangkapan.(sikat maaaang).makan-makan nya terasa nikmat apa karena kebarsamaannya?.atau karena hasil jerih payah sendiri nangkap ikannya?.tau karena lupa baca do'a makan jadi makannya kayak singa kelaparan?(mudah-mudahan bukan yang ini amin).yang pasti berkat acara ini semua staff MD'U istirahat sejenak dari amanah-amanah yang sangat banyak dan berat dan semoga setelah refreshing semua Staff MD'U siap menerima amanah-amanah yang lain lagi.
    Terus berjuang kawan karena dakwah meang berat dan susah karena surga itu manis.TAKBIR ALLAHU AKBAR

Limus on de Blog

Diposting oleh Knisa Nurimanita di 20.47 0 komentar


Edisi: Nikmatnya Merajut Benang Persaudaraan.

Pukul 03.00 Wita di hari Selasa, 9 Oktober 2012.

Tik tok tik tok. Alarm handphone berbunyi begitu keras, berusaha memanggil pemiliknya untuk segera bangun dari mimpi-mimpi tidur. Sedangkan pemilik hp itu, seorang gadis yang tetap tertidur pulas, benar-benar tak menghiraukan teriakan yang muncul dari handphone di sebelahnya. Semakin ia menarik selimut, seolah hp itu terus berteriak sedemikian kerasnya. Hingga akhirnya, gadis itu terbangun dan sadar bahwa waktu menunjukkan keharusan ia harus bermunajat kepada Rabb-Nya.


Pukul 06.00 Wita.
                One message receiving...

Assalamualaikum wr.wb. Selamat! Anda mendapatkan kesemapatan menghadiri LIMUS (ta’lim pengurus) bertempat di mushalla baru fkip pukul 16.16. isi pulsa ruhiyah Anda dan nikmati  “Nikmatnya Merajut Benang Persaudaraan” bersama Ust. Arif Budiman. Yuk! Buruan gabung,
                Mata gadis itu berkaca-kaca. Bagaimana tidak? Tim kreatif dari lembaga tersebut benar benar kreatif menurutnya, ia begitu merasa terajak untuk mengikuti ta’lim tersebut. Tentu juga karena materinya yang begitu dinantikan dan diinginkan baik bagi dirinya maupun orang lain. Ah, aku jadi tidak sabar jam 16.16 sore nanti, tidak sabar mendapatkan materi itu,,, gumamnya dalam hati.
Pukul 16.16 Wita.

                Maka duduklah di sana gadis itu, tidak sendiri namun bersama ikhwah yang lain menyimak pencerahan materi mengenai Nikmatnya Merajut Benang Persaudaraan. Dan ia pun tak hanya menyimak, tentu juga mencatatnya agar ia tak lupa dan ingin mempraktikannya  dengan segera.

            Ukhuwah Islamiyah yang berarti ikatan persaudaraan yang begitu saling memahami.
            Manfaat ukhuwah Islamiyah: 

1.   Merasakan nikmatnya manisnya iman.

2.   Mendapatkan perlindungan dari Allah ketika di akhirat kelak.

عن ابي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلي الله عليه وسلم قال سبعة يظلهم الله في ظله يوم لا ظلّ إلاّ ظلّه, امام عادل, وشاب نشأ في عبادة الله ورجل قلبه معلق بالمساجد, ورجلان تحابا في الله اجتماعا عليه وتفرقا عليه, ورجل دعته امرأة ذات منصب وجمال فقال إني أخاف الله، ورجل تصدق بصدقة فأخفاها حتي لا تعلم شماله ما تنفق يمينه، ورجل ذكرالله خاليا ففاضت عيناه،، رواه البخري ومسلم




Dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW. bersabda : Ada tujuh golongan yang dinaungi oleh Allah SWT. pada naungan-Nya di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu : Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah , seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan  masjid, dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah, berkumpul, dan berpisah karena-Nya, seorang Laki-laki  yangdi pamggil oleh seorang wanita(diajak berzina) yang berkedudukan dan cantik lalu ia menjawab, "sungguh saya takut kepada Allah", seorang pria yang bersedekah lalu dia merahasiakan sedekahnya tersebut, sehingg ibarat tangan kanan yang bersedekah tangan kiri tidak mengetahuimya, dan seorang laki-laki  yang berzikir kepada Allah dalam kesunyian,  lalu bercucuranlah air matanya." (Hadist riwayat Bukhari Muslim)




3. Mendapat tempat khusus di syurga.
    Sesuai Firman Allah pada surah Al-Hijr 


45. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir).
46. (Dikatakan kepada mereka): "Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman[801]"
47. Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.
48. Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya.

[801] Sejahtera dari bencana dan aman dari malapetaka.





Nah, Ikhwahfillah, yuuk mari kita jaga erat silatrurrahim kita, Bukankah Janji Allah Maha Benar...



KSI!! Waw Banget

Diposting oleh Knisa Nurimanita di 09.25 0 komentar

KSI XIV 
SELARASKAN POTENSI DIRI
MENCIPTAKAN PRIBADI PENDIDIK YANG PROFESIONAL DAN BERKUALITAS



check it out,,


Sampai jumpa di KSI XV, Insya Allah..*^____^*

Pages

Recent Posts

Labels

Pengikut